Senin, 13 Juni 2011

Makalah Masalah pendidikan di Indonesia




BAB I: PENDAHULUAN

1.     LATAR BELAKANG

Pada zaman ini, pendidikan tidak menjadi hal yang wajib bagi sebagian anak-anak di Indonesia. Terutama pada masyarakat bawah. Mereka lebih memilih untuk mencari uang daripada bersekolah. Hal ini yang menimbulkan berbagai masalah pada bangsa ini.

2.     RUMUSAN MASALAH

A. Apa yang menyebabkan anak-anak di Indonesia tidak bersekolah?
B. Mengapa mereka tidak memenfaatkan program belajar 9 tahun yang telah diprogramkan pemerintah?
C. Apa yang akan terjadi apabila anak-anak zaman sekarang tidak ingin bersekolah, bagi mereka dan bagi bangsa ini?

3.      TUJUAN

Untuk membantu menyelesaikan masalah pendidikan  yang ada di Indonesia, dan membantu meringankan masalah pemerintah yang sangat berat ini.
           
4.     MANFAAT

Mengubah pola pikir masyarakat bawah maupun atas dalam menanggapi masalah pendidikan yang ada di Indonesia, agar para generasi penerus bangsa dapat mendapatkan pendidikan yang layak.










BAB II: ISI

            Masalah pendidikan di Indonesia telah menjadi masalah yang sangat serius bagi bangsa ini. Hal ini dikarenakan pada zaman ini pendidikan tidak menjadi tugas utama atau hal yang wajib bagi anak-anak.

Perkonomian di Indonesia sepertinya menjadi salah satu penyebab hal tersebut. Masyarakat di Indonesia sebagian besar di dominasi oleh masyarakat bawah. Kebutuhan ekonomi keluarga yang tidak jelas membuat alasan sebagian anak-anak di Indonesia tidak mampu untuk mencicipi bangku sekolah yang semestinya menjadi hak dari anak-anak.
         
Padahal pemerintah telah memprogramkan pendidikan wajib belajar 9 tahun untuk masyarakat bawah, yaitu dengan memberikan pendidikan gratis. Tapi masih saja ada yang anak-anak yang tidak bersekolah. Mengapa? Salah satunya penyebabnya adalah keinginan anak-anak untuk ikut membantu perekonomian keluarganya. Anak-anak zaman sekarang lebih memilih untuk mencari uang daripada bersekolah. Mereka sudah tidak memiliki niat sama sekali untuk merasakan bangku sekolah dan mendapatkan pendidikan. Ada yang juga ingin bersekolah tapi tidak dapat bersekolah meskipun sekolah telah gratis, lagi-lagi dikarenakan masalah ekonomi keluarga.
         
Dan ada satu masalah lagi yang membuat program pemerintah tersebut seoerti tidak berhasil, yaitu anak yang putus sekolah di tengah jalan. Lho mengapa? Padahal anak-anak tersebut sudah bersekolah karena program pemerintah tersebut, yang mewajibkan anak-anak bersekolah 9 tahun dengan gratis, tapi mengapa mereka putus  sekolah? Selain faktor ekonomi, ternyata ada faktor lain yang menyebabkan hal tersebut terjadi, yaitu faktor sekolah. Lagi timbul pertanyaan, mengapa faktor sekolah menjadi salah satu anak-anak putus sekolah? Tentunya kita semua sering mendengar hal tersebut pada berbagia media-media kesayangan kita semua, baik media cetak ataupun media elektronik. Pada berbagai media tersebut dijelaskan bahwa banyak anak-anak yang putus sekolah karena faktor sekolah. Mereka menyebutkan bahwa pihak sekolah menyuruh anak muridnya pulang, dan tidak dapat bersekolah lagi sampai melunasi biaya sekolah(BP3).
         




Lho padahal sekolah telah digratiskan oleh pemerintah, tapi mengapa pihak sekolah masih memungut biaya? Semua sekolah menyebutkan bahwa dana yang diberikan oleh pemerintah hanya mampu untuk membeli buku saja, dan tidak untuk menggratiskan biaya sekolah(BP3). Hal ini yang menyebabkan berbagai anak putus sekolah. Tapi ada lagi faktor yang menyebabkan anak putus sekolah yaitu faktor guru. Pihak sekolah yang telah menggratiskan biaya sekolah para murid membuat berbagai murid dapat bersekolah lagi, tapi para murid masih saja ada yang tidak dapat melanjutkan sekolah. Hal ini dikarenakan, para guru yang mewajibkan anak muridnya untuk memiliki buku LKS, membuat para murid yang tidak mampu terpaksa harus ikut mengambil buku tersebut. Namun mengingat kondisi ekonomi sebagian murid yang tidak mampu, akhirnya membuat sebagian murid tidak mampu untuk membayar buku tersebut. Buku yang tidak kunjung dibayar oleh para murid membuat guru akhirnya tidak mengizinkan anak murid tersebut untuk bersekolah sebelum tunggakan buku tersebut.
         


Faktor-faktor inilah yang menyebabkan anak-anak tidak dapat bersekolah dan berakhir di jalan. Dan anak-anak tersebut seperti trauma untuk bersekolah lagi walaupun terkadang ada anak yang masih ingin bersekolah lagi. Bahkan karena faktor tersebut membuat para orang tua yang tadinya ingin menyekolahkan anaknya pada tahun ajaran baru mengurungkan niatnya karena faktor keuangan.

Para generasi penerus bangsa tersebut sepertinya akan menjadi penerus bangsa yang tidak memiliki senjata, senjata pendidikan yang semestinya dimiliki oleh generasi penerus bangsa ini untuk memajukan tanah air mereka yang tercinta.

Inilah yang menyebabkan program pemerintah seperti berjalan di tempat. Dan masalah ini semakin berkembang, dan terus berkembang. Dan dampak yang ditimbulkan tidak  lain adalah perekonomian bangsa ini akan menjadi tidak stabil. Menyebabkan menambah lagi orang miskin yang ada di Indonesia. Pendidikan menjadi hal langka bagi masyarakat bawah. Dan hal itu akan terus berputar-putar dan menjadi masalah yang sangat besar. Membuat Indonesia tidak akan menjadi Negara yang tentram dan maju.



BAB III: KESIMPULAN

          Masalah pendidikan bukan hanya menjadi masalah pemerintah saja, melainkan menjadi masalah dari seluruh elemen masyarakat bangsa Indonesia. Terutama pihak sekolah dan para guru yang juga ikut membantu masalah pendidikan generasi penerus bangsa dengan mendukung dan membantu program-program pemerintah. Masyarakat juga harus ikut membantu masalah tersebut walaupun dari hal yang sangat kecil.

          Apabila hal ini tidak mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat, maka pemandangan anak-anak generasi penerus bangsa di pinggir jalan mengais-ngais rejeki demi membentu perekonomian keluarga bukan menjadi hal yang luar biasa lagi tetapi akan menjadi hal yang biasa.

























DAFTAR PUSTAKA:



Koran lombok post

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar